PENYULUHAN MAKANAN NON MONOSODIUM GLUTAMAT PADA WANITA USIA SUBUR UNTUK MENCEGAH KERUSAKAN HATI
Kata Kunci:
Kata kunci: Monosodium Glutamat, Edukasi gizi, Wanita Usia Subur, Kerusakan HatiAbstrak
Kerusakan hati non-alkoholik (NAFLD/MASLD) merupakan masalah kesehatan global yang prevalensinya terus meningkat, diperkirakan mencapai 25–32% pada populasi dewasa (Younossi et al., 2023). Salah satu faktor risiko yang dikaji adalah pola konsumsi makanan ultra-proses dan penggunaan penyedap seperti monosodium glutamat (MSG). Meskipun MSG diakui aman dalam batas wajar oleh WHO dan BPOM, konsumsi berlebihan diduga berkontribusi terhadap stres oksidatif dan disfungsi hepatik (Muntaza & Adi, 2020; Dwi Pratiwi Kasmara et al., 2025). Edukasi gizi mengenai makanan non-MSG berpotensi meningkatkan pengetahuan dan pencegahan dini kerusakan hati, terutama pada wanita usia subur yang memiliki peran sentral dalam pola konsumsi keluarga. Tujuan dari kegiatan ini adalah Menilai efektivitas penyuluhan makanan non-MSG terhadap peningkatan pengetahuan wanita usia subur di RW 7 Pasir Putih, Padang, tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain pre–post test tanpa kontrol dengan jumlah responden 41 orang (total populasi). Instrumen berupa kuesioner pengetahuan 20 butir yang telah divalidasi. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji paired t-test atau Wilcoxon dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 51% (pretest) menjadi 89% (posttest), dengan peningkatan absolut sebesar 38 poin persentase (kenaikan relatif 74,5%). Intervensi edukatif berbasis komunitas terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta tentang MSG, sumber tersembunyi, dampak kesehatan, dan alternatif bahan alami. Penyuluhan makanan non-MSG efektif meningkatkan pengetahuan gizi wanita usia subur, yang berpotensi mendukung pencegahan dini kerusakan hati melalui perbaikan pola konsumsi. Diperlukan penelitian lanjutan dengan desain kontrol dan pengukuran jangka panjang (biokimia hati) untuk menilai dampak perilaku dan klinis yang berkelanjutan.
Kepustakaan : 21 (2011–2025)

1.png)






